Tampilkan postingan dengan label Perunggasan Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perunggasan Nasional. Tampilkan semua postingan

Untuk Internal

Posted by EKO APRI SETIADI On Minggu, 15 Desember 2013 0 komentar

U internal @Selamat pagi pak ...Pak,  hasil rapat Assosiasi GPPU dengan Bp Wamen Perdagangan (Bayu Krisna Murti) Kamis,tgl 12 Des 2013 sbb : doc GPS Import (tahun 2012, 2013) berlebih (2014 jangan berlebih) dan Pasokan Broiler melebihi Serapan maka wajib : A.  Jangka Pendek ,Cutting supply telur tetas broiler 10 - 20% berlaku minggu ke 3, 4 Des 13 dan minggu 1 dan 2 Jan (di CSR-kan) dst sambil Evaluasi. B. Jangka Menengah, Mekanisme u koordinasi/pengendalian (besaran) doc GPS yang harus diimpor 2014 dst.  C. Senin, 16 Des 13 GPPU harus presentasi u mekanisme pengurangan telur tetas dan review GPS Impor 2012, 2013 serta rencana (besaran) impor 2014  D. Ke depan setiap Import GPS harus ada Rek GPPU (juga u yang new comer)....agenda rapat senin, 16 Des 13 : Koordinasi mekanis kerja pengendalian importasi GPS , pengendalian pasokan doc FS, dihimbau seluruh company yang berhubungan dengan Kementerian Perdagangan u GPS harus hadir ; Jan 14 awal work shop u supply - demand 2014

Baca Selangkapnya >>

Proses pembentukan telur ayam

Posted by EKO APRI SETIADI On Rabu, 20 November 2013 0 komentar

Untuk mengetahui atau memahami proses pembentukan telur ayam, ada baiknya kita mengenal bagian organ reproduksi ayam betina terlebih dahulu. lihat gambar berikut : 
Organ reproduksi ayam betina   


Ovarium dan Oviduct

Ovarium adalah organ primer reproduksi pada betina dan salurannya dinamakan dengan Oviduct (Feradis,2010). Bagian dan fungsi dari Oviduct adalah sebagai berikut :
1. Infundibulum
Fungsi dari infudibulum adalah untuk menangkap ovum yang sudah matang. Bagian ini sangat tipis dan mempunyai panjang sekitar 9 cm, Bentuknya seperti corong atau fimbria yang berfungsi untuk menangkap ovum yang sudah matang. Disini telur kuning berdiam sekitar 15 sampai 30 menit
2. Magnum
Merupakan saluran terpanjang dari oviduct, panjangnya sekitar 33 cm. Ini merupakan tempat terjadinya sekresi albumen telur. Proses perkembangan telur dalam magnum sekitar 3jam
3. Isthmus
Panjang isthmus sekitar 10 cm, disini tempat terbentuknya membran sel atau biasa kita sebut selaput kerabang lunak yang berfungsi untuk melindungi masuknya mikroorganisme kedalam telur. Disini calon telur berdiam sekitar 1,5 jam
4. Uterus
Panjang uterus sekitar 10 cm sampai dengan 12 cm, disini tempat terjadinya pembentukan dan penyempurnaan kerabang telur. Waktu proses ini sekitar 20 jam sampai 21 jam
5. Vagina
Panjang vagina sekitar 12 cm, Telur dalam vagina hanya tinggal beberapa menit saja. Disini telur dilapisi dengan mucus yang berfungsi menyumbat pori pori pada kerabang telur untuk  mencegah infeksi bakteri
6. Kloaka
Merupakan bagian paling ujung dari oviduct

 Proses Pembentukan telur ayam

  • Terbentuknya telur dimulai dengan terbentuknya kuning telur didalam ovarium, 
  • Ovum yang telah matang akan dilepaskan oleh ovarium dan ditangkap oleh Infundibulum, Kuning telur berada dibagian ini selama 15-30 menit tanpa adanya penambahan unsur lain
  • Dari infundibulum kemudian masuk ke bagian Magnum, disini albumen telur disekresikan. Proses ini memakan waktu sekitar 3 jam
  • Selanjutnya masuk ke bagian Isthmus, disini telur dibungkus oleh 2 buah selaput tipis (membran sel). Proses ini memakan waktu sekitar 1,5 jam
  • Setelah membran sel terbentuk, kemudian masuk kedalam Uterus, disini kerabang telur terbentuk. Proses ini memakan waktu sekitar 20-21 jam
  • Selanjutnya telur masuk kedalam vagina, disini hanya beberapa menit saja dan kemudian dikeluarkan melalui kloaka.
Proses pembentukan telur ayam membutuhkan waktu sekitar 25 - 26 jam. Maka dari itu ayam tidak akan mampu bertelur lebih dari 1 butir / hari.

Sekian dulu materi dari saya, semoga bermanfaat.......
 
Baca Selangkapnya >>

BIOSEKURITI #bab 1

Posted by EKO APRI SETIADI On Minggu, 07 Juli 2013 0 komentar

BIOSEKURITI
Apakah biosekuriti itu?

(BIO = HIDUP, SEKURITI = PERLINDUNGAN)

Biosekuriti terdiri dari seluruh prosedur kesehatan dan pencegahan yang dilakukan secara rutin di sebuah peternakan, untuk mencegah masuk dan keluarnya kuman yang menyebabkan penyakit unggas.

Bisekuriti yang baik menghasilkan kematian yang lebih sedikit pada unggas, penghematan yang cukup besar dalam biaya produksi serta pendapatan yang lebih tinggi bagi penghasil unggas.

Biosekuriti yang baik akan berkntribusi pada pemeliharaan unggas yang bersih dan sehat dengan menggunakan sumber-sumber yang telah ada di peternakan, mengelola ternak unggas secara semestinya, menggunakan obat lebih sedikit, serta mengurangi kontaminasi.

Tujuan bisekuriti yang baik adalah untuk membangun dan mengintegrasikan beberapa usaha perlindungan yang dapat menjaga ternak unggas supaya tetap sehat

Bisekuriti yang baik menghasilkan kematian yang lebih sedikit pada unggas, penghematan yang cukup besar dalam biaya produksi serta pendapatan yang lebih tinggi bagi penghasil unggas

Baca Selangkapnya >>

Jumlah Telur Tersedia di Kulkas Bisa Dicek Lewat HP

Posted by EKO APRI SETIADI On 0 komentar

Jumlah Telur Tersisa di Kulkas Bisa Dicek Lewat HP

Deani Sekar Hapsari - detikFood
Foto: NY Daily News
Jakarta - Saat berbelanja kita sering lupa berapa banyak telur yang masih tersimpan di dalam kulkas. Hal ini membuat ragu, apakah perlu membeli stok telur baru atau tidak. Kini dengan alat ini jumlah telur yang tersisa di kulkas bisa cepat dicek.

Egg Minder merupakan produk yang diluncurkan perusahaan GE and Quirky di New York, Amerika Serikat. Produk berteknologi tinggi ini berbentuk penampang putih dengan chip wi-fi yang terhubung langsung ke internet.

Tiap Egg Minder tersusun dari 14 wadah penyimpan telur. Masing-masing wadah dilengkapi sensor untuk mengetahui apakah ada telur yang tersimpan di sana. Informasi ini kemudian dikirimkan secara nirkabel ke aplikasi WINK.

Dengan aplikasi tersebut, Anda bisa mengecek telur yang tersisa dalam kulkas lewat smartphone Anda. Egg Minder juga dilengkapi dengan lampu LED yang menunjukkan umur telur yang paling lama disimpan di kulkas.

Menurut situs Mind of The Geek, kemungkinan Egg Minder akan dijual seharga 14 dollars atau sekitar Rp 139.000. Namun, hingga saat ini GE and Quirky masih melakukan riset pasar untuk mengetahui harga yang diinginkan masyarakat untuk membeli Egg Minder.

Baca Selangkapnya >>

Dunia Bersiap Hadapi Strain Baru H7N9

Posted by EKO APRI SETIADI On Jumat, 05 Juli 2013 0 komentar

Dunia Bersiap Hadapi Strain Baru H7N9

article-image
Para pejabat di seluruh Asia dan dunia menerapkan langkah-langkah untuk melindungi penduduk dari strain baru flu burung – H7N9 – yang sampai berita ini diturunkan (17/4) telah menyebabkan kematian 14 orang dari 71 kasus yang dikonfirmasi di Cina.
Ini merupakan infeksi dan kematian manusia pertama yang tercatat dari strain virus ini. Negara-negara tetangga Cina telah mengantisipasi dengan meningkatkan kapabilitas rumah sakit dan pengawasan penyakit, memperkuat kontrol wilayah perbatasan, mengeluarkan peringatan akan larangan impor unggas ilegal, serta lebih memperketat pengujian barang-barang impor.
Sebuah tim internasional yang terdiri dari para ahli penyakit flu juga bertolak ke Cina pada akhir minggu ketiga April lalu untuk membantu investigasi virus H7N9 yang mematikan ini, demikian menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sejauh ini belum ditemukan penyebaran dari manusia ke manusia. “Kami masih mencoba menggali informasi tentang reservoir virus ini. Dari yang kami ketahui saat ini, pasar unggas merupakan fokus perhatian, namun misi pencari fakta akan mengamati lebih jauh,” ujar juru bicara WHO Glenn Thomas. Misi ini akan melibatkan para ahli dari Amerika, Eropa, Australia dan Cina.
Dalam pernyataan sebelumnya, WHO mengatakan lebih dari 1000 orang yang melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi H7N9 tengah dimonitor secara ketat akan gejala-gejala yang muncul.
Sebuah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) lain, yakni Food and Agriculture Organization (FAO) juga tengah bekerjasama dengan Beijing. “Kami bekerja dengan otoritas Cina untuk mengembangkan analisa rantai pasar (market chain) untuk melacak sumber infeksi hingga ke peternakan-peternakan dan mengidentifikasi peternakan yang terinfeksi,” ujar juru bicara FAO, Silvano Sofia.
WHO dan FAO memuji langkah otoritas Cina untuk meningkatkan pengawasan penyakit dan mengadakan uji retrospektif pada orang yang menderita penyakit pernapasan tanpa diketahui asal muasalnya. Cina juga dipuji karena menginformasikan perkembangan virus kepada publik dan mengijinkan ilmuwan untuk meneliti.
“Hal ini memungkinkan komunitas ilmuwan melakukan analisis lebih jauh dan mempersiapkan diagnosis dan produksi vaksin untuk manusia. Sementara itu masyarakat harus terus waspada untuk mencegah penularan infeksi pernafasan dan menghindari kontak langsung dengan unggas yang sakit atau mati,” tambah Sofia.
Hingga pertengahan April (17/4) lalu, sektor perunggasan Cina telah mencatat kerugian lebih dari 10 milyar Yuan ($1,6 milyar)sejak dilaporkannya strain baru ini pada akhir Maret lalu, demikian menurut National Poultry Industry Association seperti dilaporkan Reuters.
Otoritas Cina telah memusnahkan ribuan unggas dan menutup pasar unggas hidup di Shanghai dan Beijing. Hingga saat ini, sebagian besar kasus terjadi di bagian timur Cina dan telah mengakibatkan anjloknya konsumsi hingga setengah, menurut Liu Yonghao, presiden New Hope Group, produsen pakan terbesar di Cina, seperti dilaporkan kantor berita Xinhua.
Harga ayam juga jatuh menyusul merosotnya permintaan. Harga ayam kualitas tinggi turun dari 16 yuan per kilogram menjadi hanya 4 yuan, ujar Liang Zhong dari asosiasi perunggasan. “Harga ayam yang jatuh akan menyebabkan kerugian pada breeder,” ujar Liu. Terdapat lebih dari 100 juta peternak yang akan turut menanggung kerugian


  ——————————
BLOG Layer Nusantara mempunyai harapan untuk menjadi Pintu Gerbang Informasi Bisnis Layer di Indonesia. Andapun dapat turut berbagi informasi sebagai kontributor di BLOG tersebut.
Bila Anda berkeinginan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman bisnis perunggasan, maka di sinilah tempatnya. Kirimkan artikel Anda melalui email posongfarm@gmail.com dan akan diposting di BLOG PETERNAK LAYER NUSANTARA. Jangan lupa follow @republikENDOG  di http://www.twitter.com untuk selalu terhubung bersama mengkampanye protein hewani untuk menuju Indonesia Emas 2020
Baca Selangkapnya >>

PERSOALAN MIKOTOKSIN PADA PAKAN

Posted by EKO APRI SETIADI On Rabu, 05 Juni 2013 0 komentar
Cuaca yang selalu berubah seperti saat ini, kadang hujan dan tiba-tiba panas menyebabkan kondisi lembab dan panas yang dapat merangsang jamur membentuk mikotoksin dalam pakan ternak. Bagaimana cara mengendalikannya?



Pakan memegang peranan yang sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan produktifitas ternak. Bukan saja karena merupakan input biaya terbesar dalam proses produksi, tetapi juga merupakan langkah awal dalam menuju sukses beternak.
Oleh sebab itu, pakan yang diberikan harus senantiasa terjaga kualitasnya. Begitu juga manajemen pengadaan, penanganan, penyimpanan bahan baku dan atau pakan jadi, serta cara pemberian pakan memegang peranan yang sangat penting untuk memastikan pakan yang akan diberikan pada ternak kualitasnya tetap terjaga.

Hal ini penting diperhatikan sebab, manajemen penanganan dan penyimpanan bahan baku dan pakan yang kurang baik, kerap kali menyebabkan masalah yang terkait dengan kasus mikotoksikosis.
Jamur penghasil mikotoksin kini sudah menyebar hampir diseluruh belahan dunia, termasuk juga negara-negara penghasil jagung. Sehingga bisa dikatakan tidak ada negara penghasil bahan baku pakan ternak yang bebas dari cekaman jamur.

Terkait dengan ketersediaan bahan baku pakan yang semakin sulit ditemui serta diikuti oleh naiknya harga jagung dunia. Ternyata pasokan jagung untuk industri pakan ternak memang sengaja dikurangi, karena beralihnya sebagian penggunaannya untuk industri biofuel. Fenomena ini menyebabkan feedmiller untuk berusaha mencari.

Tipe mikotoksin ada 300 jenis yang telah teridentifikasi, namun yang kerap muncul dalam pakan ternak adalah aflatoksin, ocrhatoksin A, patulin, fuminisin B1, trichothecenes, zearalenon, Deoxynivalenol (DON/ Vomitoxin), dan T2-toksin (trichotecenes). Sementara itu, tiga jenis jamur yang sering menyebabkan mikotoksikosis adalah dari golongan aspergilus, pencilium dan fusarium.

Menekan Produksi, Menurunkan Kekebalan

Mikotoksikosis disebabkan oleh substansi beracun dari hasil metabolit jamur atau fungi yang umum tumbuh dalam bahan baku pakan. Racun hasil metabolit itulah yang disebut mikotoksin. Mikotoksin akan sangat cepat dihasilkan oleh suatu jenis jamur, bahkan kadang lebih dari satu macam bila kelembaban, temperatur lingkungan dan kadar air bahan baku atau dalam pakan mendukung.

Racun jamur ini diproduksi pada kelembaban lebih dari 75% dan temperatur di atas 20°C, dengan kadar air bahan baku pakan di atas 16%. Sebagai produk metabolisme jamur atau kapang, mikotoksin tumbuh pada berbagai komoditas terutama produk pertanian seperti kacang tanah, jagung dan sebagainya.

Jamur-jamur itu akan mengontaminasi produk-produk pertanian tersebut dengan mikotoksin sehingga ketika komoditi tersebut dijadikan pakan ternak atau pangan manusia, toksin tersebut akan masuk ke dalam tubuh. Karena mekanisme kerja yang sinergis dari beragam jenis jamur tersebut, menyebabkan pengaruh negatif pada ternak yang terintoksifikasi menjadi semakin kompleks.

Ternak yang terintoksifikasi oleh racun ini akan mengalami penurunan kekebalan tubuh sehingga penyakit akan lebih mudah menyerang. Disamping itu, tingkat toksisitas yang di atas ambang dapat menurunkan kinerja produksi ternak dalam hal pertumbuhan dan mengganggu sistem reproduksi.

Sayangnya, efek tidak langsung dari mikotoksin kadang tidak diketahui peternak sehingga kerugian dari segi efisiensi pakan menjadi cukup besar. Efek toksisitas mikotoksin tergantung dari intensitas dan waktu intoksifikasi serta bersifat akumulatif.

Mikotoksikosis dapat menyebabkan turunnya fungsi kekebalan tubuh, karena pengaruh langsung mikotoksin terhadap jalannya fungsi kekebalan baik seluler maupun humoral sehingga fungsi tersebut turun secara keseluruhan. Sedang gejala keracunan yang sering terlihat pada umumnya adalah muntah, diare, luka pada rongga mulut dan turunnya nafsu makan.

Sementara parameter ekonomis seperti efisiensi pakan konversi pakan, produksi telur, kualitas daging juga menurun dengan adanya intoksifikasi. Karena kemungkinan terjadinya kontaminasi pada komoditas pertanian dimulai sejak dari ladang, penyimpanan dan proses pengolahan menjadi produk akhir sebagai pakan ataupun pangan. Mikotoksikosis dapat ditanggulangi dengan menggunakan bahan baku yang bebas dari mikotoksin.

Sedang upaya pencegahannya dilakukan dengan menciptakan sistem budidaya yang optimal serta selalu memperhatikan kualitas bahan baku termasuk mengoptimalkan penyimpanan dan distribusi. Penyimpanan bahan tersebut sebaiknya jangan melebihi kadar air 13-14%, karena pada kadar air di atas ambang tersebut mikotoksin diproduksi.

Waspadai Gejalanya di Farm

Peternak hendaknya patut curiga bila sering menemui unggasnya menunjukkan gejala serangan mikotoksikosis. Diantaranya adalah luka di mulut, pertumbuhan lambat dan tidak merata. Apabila dilakukan bedah bangkai banyak ditemukan peradangan pada saluran pencernaan dan pernapasannya.
Negara tropis seperti Indonesia dengan tingkat kelembaban udara yang tinggi sangat rentan dengan penyakit tersebut. Ini karena dalam kondisi temperatur dan kelembaban seperti itu, jamur akan mudah tumbuh dan berkembang biak. Jenis mikotoksin yang paling banyak muncul sebagai penyakit adalah aflatoksin. Untuk lebih tepat mendeteksi penyakit, harus dilakukan pengambilan sampel dan deteksi langsung.

Guna meminimalkan kejadian tersebut, cara yang paling ideal dengan menggunakan bahan pakan bebas mikotoksin. Tetapi hal ini tidak selalu berarti bebas jamur. Sebab boleh jadi, jamurnya sudah dibasmi sebelum diperjualbelikan. Pembasmian itu dilakukan dengan zat-zat pembunuh jamur, meski demikian racun yang diproduksi oleh jamur akan tetap menempel dalam bahan makanan. Sebab sebagian besar mikotoksin itu stabil pada suhu panas sehingga perlakuan yang melibatkan suhu panas dalam menghancurkan racun mikotoksin menjadi tidak efektif.

Pengamatan secara visual terhadap bahan baku pakan hanya bisa dilakukan sebatas pengamatan terhadap jamur yang ada pada bahan baku tersebut, bukan pada mikotoksinnya. Karena hal itu membutuhkan analisa kandungan mikotoksin dalam setiap bahan pakan yang digunakan. Perlu dilakukan pengujian laboratorium lebih lanjut.
Alasannya, ketika bahan pakan sudah terkontaminasi jamur, besar kemungkinan tidak hanya memproduksi satu jenis toksin tetapi bisa lebih dari satu. Kalau ini terjadi, meski kandungan mikotoksin rendah tetapi karena terdapat beberapa jenis mikotoksin, maka akan memberikan dampak akumulasi dari kumpulan beberapa toksin tersebut. Dampaknya bisa sama parahnya dengan satu jenis mikotoksin yang terdapat dalam bahan pakan dalam jumlah besar.

Mengatasi persoalan tersebut, yang paling tepat dilakukan adalah dengan menggunakan mikotoksin adsorbent atau mikotoksin binder (pengikat mikotoksin). Ada banyak mikotoksin adsorbent yang bisa digunakan.
Sebagai panduan, disarankan untuk menggunakan mikotoksin adsorbent dengan syarat sebagai berikut :
1. Mampu mengikat mikotoksin yang beragam (tidak hanya satu jenis mikotoksin).
2. Mampu mengikat toksin dalam level yang sangat tinggi.
3. Mampu mengikat mikotoksin meskipun dalam konsentrasi yang rendah.
4. Produk tersebut harus stabil terhadap panas dan pH.
5. Penggunaanya harus dalam jumlah sedikit sehingga tidak menyulitkan dalam penyusunan ransum.
6. Relatif tidak mengikat nutrisi lain yang berguna untuk pertumbuhan seperti vitamin dan asam amino.

Untuk mencegah munculnya mikotoksin dari mulai awal pengumpulan bahan baku pastikan biji-bijian yang didapat tidak rusak sejak dipanen. Kadar air bahan baku pakan juga harus kurang dari 14%. Sementara untuk mencegah tumbuhnya jamur, bisa dicampur dengan preservative seperti Asam Propionat dan mycotoxin binder.

Disadur dari : www.majalahInfovet.com (Persoalan Jamur pada Musim Hujan)
Baca Selangkapnya >>

Usaha yang Masih Menjanjikan

Posted by EKO APRI SETIADI On Selasa, 21 Mei 2013 0 komentar


7. May, 2013 by Admin POULTRY Mei 2013
Potensi lokal ini memang tidak perlu
diragukan lagi, banyak pihak menilai bahwa
potensi ini sangat menjanjikan. Penilaian
terhadap peluang ini tidak hanya datang dari
pemerintah, tapi juga dari pelaku usaha hingga
akademisi.
Ditemui langsung oleh tim majalah
Poultry Indonesia dikediamannya, Drh. Setyono
Al Yoyok, Direktur Pakarvet Malang menyatakan
bahwa prospek budi daya peternakan dan
pemasaran ayam lokal sangat bagus. Bagusnya prospek ayam lokal disebabkan
oleh masih tingginya kebutuhan konsumsi masyarakat terhadap telur dan
dagingnya. “Telur ayam lokal masih banyak dibutuhkan untuk minum jamu,”
katanya. Daging dan telur ayam lokal, lanjutnya, juga lebih digemari karena
rasanya lebih lezat.
Namun, kondisi kelangkaan produk telur dan daging dipasaran masih sering
terjadi. Menurut Yoyo, bila persediaan telur ayam lokal kurang, umumnya konsumen
larinya ke ayam lokal Arab. Sedangkan bila persediaan daging kurang, konsumen
banyak menggantinya dengan ayam pejantan. “Harapannya dengan tingginya
kebutuhan terhadap ayam lokal maka banyak intensifikasi dilapangan itu,”
jelasnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ir. Fauzi Luthan, menurutnya potensi
pengembangan masih terbuka lebar baik untuk telur maupun daging. Karena
suplainya untuk telur atau daging baru sekitar 10-15%. “Untuk itu kami mendorong
semua pihak terkait mulai dari pembibit sampai peternak budidaya untuk
berkembang dan meningkatkan skala usahanya,” ujarnya.
Untuk pasca panen atau pemasaran, lanjutnya, sebagian besar masih melalui
pedagang perantara. Peternak masih belum mampu melakukan kontrak pemasaran
dengan pasar modern ataupun rumah makan. Alasannya, belum mampu memenuhi
kontinuitas sesuai kontrak. Untuk peternakan pola intensif, permintaan pasar
terbesar merupakan pasar modern (45%), rumah makan (35%) dan pasar
tradisional (20%). Peluang usaha pengolahan untuk karkas ayam juga terbuka
terutama untuk pasar modern dan rumah makan. Apabila peternak mampu
mengolah hasil panennya maka akan ada nilai tambah sekitar 15% dibandingkan
menjual ayam hidup.
Ditempat terpisah, Prof Dr. Ir. Edjeng Suprijatna, M.P, Guru Besar Fakultas
Pertanian dan Peternakan Universitas Diponegoro Semarang mempunyai
pandangannya tersendiri terhadap kondisi perunggasan lokal Indnesia. Menurutnya,
saat ini tidak hanya masyarakat perdesaan yang piara ayam lokal, orang perkotaan
pun piara ayam lokal sebagaimana di mancanegara. Usaha ayam lokal sebenarnya
merupakan soko guru pembangunan peternakan Indonesia, karena ayam lokal
dominan di seluruh pelosok Indonesia,” ujarnya ketika ditemui tim Poultry
Indonesia.
Edjeng menunjukkan data bahwa pada tahun 2007-2008 ayam lokal
mengalami penurunan populasi berturut-turut sekira 272 juta ekor dan 243 juta
ekor, akibat adanya wabah Avian Influenza (AI) yang juga menyerang ayam ras.
Namun pada tahun-tahun berikutnya, 2010-2011 mengalami kenaikan, populasinya
berturut-turut 257 juta ekor dan 274 juta ekor seiring kemampuan menangani
penyakit AI dan pertumbuhan pembibitan ayam lokal.
Bahkan, pasar ayam lokal terus-menerus bertambah. “Konsumen tidak bisa
dibohongi, daging ayam lokal memiliki rasa yang special: kenyal dan gurih, tidak
tergantikan oleh ayam ras, bahkan oleh ayam layer pejantan sekalipun, “tegas pria
kelahiran Bandung ini. Sesuai hukum pasar, ada penawaran maka ada permintaan,
maka tumbuhlah pembibit-pembibit dengan mayoritas berskala rakyat, termasuk
usaha pembesaran.
Selalu kurang
Perkembangan industri ayam lokal ini juga diutarakan oleh Ir. Bambang
Krista, Citra Lestari Farm. Menurutnya, usaha pembibitan ayam lokal yang
dimulainya pada tahun 2009 mengalami perkembangan yang cukup pesat.
“Beberapa tahun lalu, belum banyak pelaku usaha peternakan ayam lokal,”
ucapnya. Namun, lanjutnya, perkembangan industri ayam lokal sejak 2010 hingga
saat ini memang sangat signifikan, terus ada perkembangan yang lebih baik. Saat
ini, paparnya, populasi Citra Lestari farm sekitar 20.000 ekor dengan total tenaga
kerja yang terserap sebanyak 25 orang.
Dari populasi dan sumber daya yang ada, perusahaan ini mampu
menghasilkan anak ayam umur sehari (DOC) sebanyak 300 box per minggu, sekitar
30.600 ekor. “Permintaan DOC cukup banyak, saat ini teman-teman peternak yang
memesan DOC juga harus inden,” tegasnya. Harapan kita, lanjutnya, perusahaan ini
akan terus meningkatkan angka produksi DOC hingga 500 box per minggu. “Dulu
kami pernah mencapai, produksi 400 box perminggu,” lansirnya.
Kemajuan usaha ini juga dirasakan oleh Ir. Budi Miharso, Trias Farm salah
satu perusahaan pembibitan ayam arab yang ada di Bogor, dimana saat ini bisnis
pembibitan DOC untuk ayam lokal masih bagus. Pasalnya, ada beberapa situasi
melakukan pembatasan order DOC dan permintaan DOC saat ini masih cukup
tinggi.
Dengan, lanjutnya, jumlah populasi indukan yang ada saat ini kami tidak
bisa penuhi permintaan peternak.”Pada bulan Mei ini DOC sudah terorder, sehingga
ada beberapa konsumen kita yang harus inden,” katanya. Total DOC, lansirnya,
panen dalam seminggu kurang lebih 9.000 ekor untuk betina dan 9.000 ekor
jantan. Dalam seminggu, DOC yang dihasilkan oleh Trias farm lebih kurang 18.000
BLOG Peternak Layer Nusantara mempunyai harapan untuk menjadi Pintu Gerbang Informasi Bisnis Layer di Indonesia. Andapun dapat turut berbagi informasi sebagai kontributor di BLOG tersebut. Bila Anda berkeinginan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman bisnis perunggasan, maka di sinilah tempatnya. Kirimkan artikel Anda melalui email posongfarm@gmail.com dan akan diposting di BLOG PETERNAK LAYER NUSANTARA. Jangan lupa follow @republikENDOG di http://www.twitter.com untuk selalu terhubung bersama
denga populasi indukan saat ini untuk komersil mencapai 15.000 ekor dan untuk
breedingnya 4.000 ekor.
Selengkapnya simak Majalah Poultry Indonesia edisi cetak Mei 2013

Baca Selangkapnya >>

Mikotoksikosis dan Imunosupresi

Posted by EKO APRI SETIADI On Selasa, 23 April 2013 0 komentar

Mikotoksikosis dan Imunosupresi

article-image
Keterlibatan mikotoksin dalam kasus metabolik industri perunggasan dunia ibarat suatu “siluman”, tidak kasat mata namun jelas dalam efek yang ditimbulkannya. Kalaupun level dalam pakan dapat dideteksi dengan uji laboratoris, namun hasil uji laboratoris tersebut seringkali menimbulkan perdebatan yang tidak pernah tuntas. Tulisan ini mencoba memaparkan kajian lapangan kasus mikotoksikosis pada ayam modern dari kacamata seorang praktisi lapangan.

Sekilas tentang mikotoksin
Mikotoksin merupakan metabolit sekunder dari beberapa jenis kapang yang tumbuh pada biji-bijian yang kaya akan bahan nutrisi (terutama karbohidrat) dalam kondisi lingkungan yang ideal atau optimal. Sampai saat ini telah diidentifikasi lebih dari 400.000 jenis mikotoksin yang dapat mengancam kehidupan manusia maupun hewan ternak, termasuk unggas.
Karakteristik fisik mikotoksin seperti tidak kasat mata (invisible), tidak berwarna (colourless), tidak berbau (odorless), serta tidak mempunyai rasa (tasteless) merupakan kesulitan tersendiri untuk mendeteksi keberadaan mikotoksin dalam pakan ternak. Dari sudut karakteristik kimiawi, mikotoksin merupakan senyawa kimia yang sangat stabil, sangat tahan pada suhu yang tinggi (>1000C), sangat tahan pada kondisi-kondisi penyimpanan serta sangat tahan pada berbagai kondisi proses-proses dalam pembuatan pakan ternak itu sendiri.
Ada beberapa kapang penting yang dapat menghasilkan mikotoksin dan berbahaya bagi ayam modern, yaitu:
1)      Field fungi, misalnya Fusarium roseum, Fusarium graminearum, dan Fusarium culmorum. Kapang Fusarium spp umumnya menghasilkan metabolit toksin-T2 (T2-toxin).
2)      Storage fungi, misalnya Aspergillus flavus, Aspergillus parasiticus, Penicillium viridicatum. Kapang-kapang dari kelompok ini umumnya dapat menghasilkan metabolit dalam bentuk aflatoksin (khususnya Aflatoksin-B1) dan okratoksin (khususnya Okratoksin-A).
Gejala klinis problem mikotoksikosis pada ayam modern biasanya tidak terlalu spesifik, umumnya dalam bentuk gangguan performa atau menurunnya produktifitas ayam yang ada.  Di lapangan, kasus mikotoksikosis dapat terjadi secara akut, sub-kronis ataupun kronis; tergantung pada level dan jumlah jenis mikotoksin dalam pakan, lamanya ayam terpapar pada pakan yang mengandung mikotoksin serta keberadaan faktor lain seperti cekaman stres yang dapat bertindak sebagai faktor interaktan.
Mirip seperti pada gejala klinis, manifestasi bedah bangkai problem mikotoksikosis di lapangan dapat mengindikasikan kejadian sistemik, lokal atau bahkan spesifik pada organ tubuh tertentu (organ spesific); tergantung level dan jumlah jenis mikotoksin dalam pakan, lamanya ayam terpapar pada pakan yang mengandung mikotoksin serta keberadaan faktor lain seperti cekaman stres yang dapat bertindak sebagai faktor interaktan.
Hamilton (1984) adalah toksikolog pertama yang mengatakan bahwa tidak ada batas aman cemaran mikotoksin bagi manusia maupun hewan ternak.  Hal ini terjadi akibat adanya fenomena efek KUMULATIF dari sebagian besar mikotoksin yang menyerang manusia dan hewan ternak.  Pada kenyataan lapangan, situasi seperti inilah yang sebenarnya sering terjadi.  Dari analisa laboratoris pakan ayam, seringkali ditemukan level mikotoksin yang relatif jauh di bawah batas ambang (misalnya Aflatoksin-B1 <20 ppb), namun realita ayam di lapangan sudah menunjukkan baik gejala klinis maupun gambaran bedah bangkai yang mengarah pada kasus mikotoksikosis. Tony Unandar (Anggota Dewan Pakar ASOHI-Jakarta).
Selengkapnya simak Majalah Poultry Indonesia edisi cetak April 2013. 


——————————
BLOG Peternak Layer Nusantara mempunyai harapan untuk menjadi Pintu Gerbang Informasi Bisnis Layer di Indonesia. Andapun dapat turut berbagi informasi sebagai kontributor di BLOG tersebut.
Bila Anda berkeinginan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman bisnis perunggasan, maka di sinilah tempatnya. Kirimkan artikel Anda melalui email posongfarm@gmail.com dan akan diposting di BLOG PETERNAK LAYER NUSANTARA. Jangan lupa follow @republikENDOG  di http://www.twitter.com untuk selalu terhubung bersama

Baca Selangkapnya >>

Gejolak Harga Ayam

Posted by EKO APRI SETIADI On 0 komentar

Gejolak Harga Ayam

article-image
Kisaran harga broiler pada bulan Maret 2013 bervariasi. Sigit Prabowo, peternak asal Bogor mengatakan, pada minggu pertama sampai minggu ketiga bulan Maret harga broiler berkisar antara Rp.15.000 – Rp.17.000. Namun, pada minggu keempat, harga broiler sempat turun di harga Rp.14.000, dan sampai saat ini masih stagnan di harga Rp.14.500 – Rp.14.700 (27/3). Break Event Point (BEP) saat ini, tambah Sigit, masih sama seperti bulan lalu yakni Rp.15.500 – Rp.16.000.

Dibandingkan dengan bulan lalu, harga broiler masih stabil. Menurut Sigit kecenderungan penurunan harga ini disebabkan oleh adanya pasokan bertambah dan ini terjadi hampir merata ke seluruh wilayah.
Harga DOC, Sigit mengungkapkan di daerah Jabodetabek harga berkisar antara Rp5.500 – Rp.5.750 per ekor, dan harga pakan berkisar antara Rp.6.300 – Rp.6.400 per kg.
Untuk daerah Kuningan, Jawa Barat harga broiler 1,6 – 1,8 kg per tanggal 27 Maret 2013, berada di kisaran Rp.12.600 per kg. Heri praktisi broiler setempat mengungkapkan harga ini sudah berlangsung sejak satu pekan yang lalu. Turun jika dibandingkan pada awal bulan, yakni berkisar antara Rp.14.400 – Rp.14.500 per kg. “Harga cenderung turun dirasakan peternak setelah pertengahan bulan. Awal bulan sampai pertengahan Maret, harga masih di atas BEP tetapi saat ini harga di bawah itu,” akunya.
Penurunan harga ini, lanjutnya, disebabkan karena banyak ayam yang sakit, produksi DOC banjir, stabilitas politik yang tidak stabil, nilai tukar rupiah juga turun, berbanding terbalik dengan sapronak. Untuk harga DOC, Heri mengatakan naik Rp.500 – Rp.600 per ekor dari bulan lalu Rp.4.600 – Rp.5.000 per ekor. Harga DOC saat ini sudah berkisar Rp.5.600 – Rp.5.900.
Begitu pula dengan pakan. Diakuinya bahwa harga pakan naik Rp.300 per kg. Bulan lalu harga pakan berkisar antara Rp.6.800 – Rp.6.900 per kg menjadi Rp.7.100 – Rp.7.200 per kg. Ini menyebabkan biaya operasional ikut naik. Biaya operasional yang tadinya hanya mencapai Rp.1.050 – Rp.1.100 per ekor, saat ini menjadi Rp.1.200 per ekor.
Harapannya harga pasar semakin membaik. Namun, Heri mengatakan prediksi harga ini sampai akhir bulan masih di bawah BEP.
Sementara itu, dari pantauan di lapangan harga ayam potong di Kabupaten Temanggung, dalam sepekan terakhir juga mengalami penurunan (26/3). Semisal di pasar Darurat Parakan dan pasar Kliwon Rejo Amertani Temanggung.
Di pasar Kliwon Rejo Amertani penurunan harga sudah terjadi sejak sepekan terakhir, di mana harga menjadi Rp.23.000 – Rp.24.000 per kg dari harga semula Rp.28.000 per kg. Meskipun harga turun, stok masih banyak, penjualan justru sepi. Dari penuturan beberapa pedagang, daging ayam akan banyak konsumennya saat musim-musim tertentu saja. Ramainya saat musim libur sekolah, hajatan, bulan-bulan di mana banyak orang menikah, lebaran bahkan tahun baru.
Di pasar Darurat Parakan, harga ayam potong turun Rp.3.000 dari sebelumnya Rp.25.000 per kg. Namun, penjualan di pasar ini cenderung normal, berbeda dengan pasar Kliwon yang sepi pembeli.
Selengkapnya simak Majalah Poultry Indonesia edisi cetak April 2013. 


——————————
BLOG Peternak Layer Nusantara mempunyai harapan untuk menjadi Pintu Gerbang Informasi Bisnis Layer di Indonesia. Andapun dapat turut berbagi informasi sebagai kontributor di BLOG tersebut.
Bila Anda berkeinginan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman bisnis perunggasan, maka di sinilah tempatnya. Kirimkan artikel Anda melalui email posongfarm@gmail.com dan akan diposting di BLOG PETERNAK LAYER NUSANTARA. Jangan lupa follow @republikENDOG  di http://www.twitter.com untuk selalu terhubung bersama mengkampanye protein hewani untuk menuju Indonesia Emas 2020

Baca Selangkapnya >>

PROMOSI ATAU EDUKASI?

Posted by EKO APRI SETIADI On Selasa, 19 Maret 2013 0 komentar

PROMOSI ATAU EDUKASI?

article-image
Perunggasan tahun 2013 ini diprediksi tetap prospektif, bahkan lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Optimisme ini tentulah bukan tanpa alasan. Fakta tiga tahun terakhir memperlihatkan terus meningkatnya konsumsi daging ayam sebagai penyumbang terbesar konsumsi daging nasional. Jika pada tahun 2010 tingkat konsumsi per kapita daging ayam sudah mencapai 4,99 kg masih terus meningkat menjadi 7,41 kg pada 2012 yang lalu. Prediksi, atau tepatnya harapan, kalangan pengusaha perunggasan tahun 2013 tingkat konsumsi akan mencapai 8,60 kg/kapita/tahun. Bahkan lima tahun ke depan bisa mencapai 15 kg/kapita/tahun (PI Januari 2013).
Kalangan perunggasan dan pengamat ekonomi pun optimis konsumsi masih bisa ditingkatkan lagi dengan alasan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih tinggi sekitar 6 persen. Meningkatnya permintaan memang bukan hanya ditentukan oleh satu faktor saja, melainkan banyak faktor lain seperti pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan, meningkatnya jumlah penduduk di perkotaan dan gaya hidup, khususnya di kalangan kelas menengah. Di samping itu perlu didukung juga promosi untuk memuluskan jalan mencapai target tersebut.
Pola pikir bergeser
Agaknya sudah ada pergeseran pola pikir kalangan perunggasan saat ini. Bila dulu mendorong konsumsi daging ayam ditempuh melalui kampanye, kini lebih menekankan pada promosi. Sepanjang catatan penulis gaungnya sudah terdengar setengah tahun lalu.  Bukan sekadar promosi tetapi dinyatakan dengan ungkapan “promosi intensif” atau “promosi besar-besaran”. Pada rubrik Opini bulan Januari majalah ini, Ir. Suryo Suryanta telah menyinggung juga di akhir tulisannya.
Apakah perubahan ini mengindikasikan gagalnya strategi kampanye gizi yang selama ini dilakukan? Ataukah justru karena implementasinya yang kurang tepat? Boleh jadi kaidah kampanye gizi tidak sesuai dengan yang seharusnya dilaksanakan. Bila demikian, kampanye gizi di masa lalu tidak pernah digarap secara serius. Lalu kini muncul gagasan untuk menerapkan strategi promosi agar konsumsi daging ayam meningkat dua kali lipat.  Kampanye gizi bukan semata-mata untuk meningkatkan konsumsi secara kuantitatif, tetapi sekaligus meningkatkan status gizi masyarakat maka strategi promosi tampaknya titik beratnya hanya pada konsumsi. Sederhananya, yang utama dagangan laku keras di pasar tanpa peduli dengan edukasi konsumen.
Promosi adalah konsep komunikasi yang diaplikasikan di dunia pemasaran yang disebut bauran pemasaran atau lebih populer dengan teori 4P-nya, yaitu product, price, promotion, dan place. Pada perkembangan berikutnya konsep ini kemudian diterapkan juga dibidang lain yang tidak melulu komersial sehingga dikenal juga istilah “pemasaran sosial”  (Rice & Atkin 1989). Oleh karena komunikasi adalah inti promosi maka perlu dipahami bahwa sifat peranan promosi dalam meningkatkan konsumsi tidak selalu berpengaruh langsung. Promosi bukan penentu utama tetapi perlu dilakukan. Keberhasilannya sangat ditentukan oleh bentuk media yang digunakan, daya tarik pesan, dan frekuensi kegiatan promosi itu sendiri.
Pemilihan bentuk media bukan persoalan yang sulit. Paling tidak dari segi ketersediaannya sekarang ini adalah era teknologi komunikasi dan informasi, segala macam media ada. Dari yang konvensional seperti media cetak sampai media baru semacam media sosial sudah sangat populer. Frekuensi promosi hanya persoalan anggaran sehingga tinggal menyesuaikan saja. Justru yang paling kritikal adalah bagaimana mengemas pesan yang memiliki daya tarik kuat terhadap masyarakat sehingga lebih mudah dipengaruhi.
Sebenarnya, promosi untuk meningkatkan konsumsi daging ayam secara tidak langsung sudah lama dilakukan, terutama melalui produk olahannya.  Iklan di media massa, terutama televisi, adalah salah satu dari lima bauran promosi  yang paling banyak digunakan untuk barang konsumsi tidak tahan lama, selain penjualan secara tatap muka. Itulah sebabnya tidak perlu heran mengapa di pinggir jalan-jalan besar mudah sekali menemui pedagang ayam goreng  ala fried chicken. Bukankah para pedagang ayam goreng juga konsumen daging ayam? Hadiyanto. Dosen Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Fakultas Ekologi Manusia IPB.

Selengkapnya simak Majalah Poultry Indonesia edisi cetak Maret 2013. 

——————————
BLOG Peternak Layer Nusantara mempunyai harapan untuk menjadi Pintu Gerbang Informasi Bisnis Layer di Indonesia. Andapun dapat turut berbagi informasi sebagai kontributor di BLOG tersebut.
Bila Anda berkeinginan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman bisnis perunggasan, maka di sinilah tempatnya. Kirimkan artikel Anda melalui email posongfarm@gmail.com dan akan diposting di BLOG PETERNAK LAYER NUSANTARA. Jangan lupa follow @republikENDOG  di http://www.twitter.com untuk selalu terhubung bersama mengkampanye protein hewani untuk menuju Indonesia Emas 2020
Baca Selangkapnya >>

Telur : Makanan Tersehat di Dunia

Posted by EKO APRI SETIADI On 0 komentar

Telur : Makanan Tersehat di Dunia

article-image
 Telur merupakan bahan pangan sumber protein hewani utama penduduk di seluruh dunia.

 Hal ini berkaitan dengan karakteristik telur yang bergizi lengkap sehingga disebut kapsul gizi atau superfood, berharga murah, tersedia dengan mudah, dan dapat diolah menjadi berbagai jenis menu makanan. Rata-rata konsumsi telur di dunia sekitar 9,4 kg (150 butir) per kapita per tahun, dengan variasi tinggi yaitu lebih dari 300 butir di Jepang, 240 butir di Uni Eropa atau Amerika Serikat, dan kurang dari 100 butir di Afrika dan Asia Tenggara (FAO, 2011). Di Indonesia konsumsi telur mencapai 7,23 kg (116 butir) per kapita per tahun (Ditjennakkeswan, 2011).
Konsumsi telur ini akan terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan perkembangan ekonomi. Namun, konsumsi telur agak terganggu adanya “kolesterol fobia”, yaitu ketakutan berlebihan terhadap kolesterol yang telanjur diyakini sebagai penyebab penyakit jantung koroner (PJK) dan stroke.
Tabel 1. Zat Gizi Sebutir Telur
Eggs: 1.00 each  (50.00 grams, 77.50 calories)
Nutrient
Amount
DV
(%)
Nutrient
Density
World’s Healthiest
Foods Rating
choline
112.65 mg
26.5
6.2
very good
tryptophan
0.08 g
25.0
5.8
very good
selenium
15.40 mcg
22.0
5.1
very good
iodine
27.00 mcg
18.0
4.2
very good
vitamin B2
0.26 mg
15.3
3.6
very good
protein
6.29 g
12.6
2.9
good
molybdenum
8.50 mcg
11.3
2.6
good
vitamin B12
0.55 mcg
9.2
2.1
good
phosphorus
86.00 mg
8.6
2.0
good
vitamin B5
0.70 mg
7.0
1.6
good
vitamin D
26.50 IU
6.6
1.5
good

World’s Healthiest
Foods Rating
Rule
excellent
DV>=75% or
Density>=7.6 AND DV>=10%
very good
DV>=50% or
Density>=3.4 AND DV>=5%
good
DV>=25% or
Density>=1.5 AND DV>=2.5%
Ket: nutrient (zat gizi), DV = Daily Value (Nilai Harian), Nutrient Density (Kepadatan Zat Gizi), excellent (unggul), very good (sangat baik), good (baik)
Sumber: The World’s Healthiest Foods (2012)
Berbagai penelitian terbaru membuktikan bahwa telur bukanlah penyebab PJK dan stroke. Telur bahkan berada pada urutan pertama dalam daftar makanan hewani yang tergolong makanan tersehat di dunia (The World’s Healthiest Foods) versi The Huffington Post (USA), karena menyediakan protein yang sempurna, rendah kalori dan lemak, serta kaya nutrisi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia (Tabel 1).
Dr. Don McNamara (2010) dari International Egg Nutrition and Resource Centre USA mengemukakan bahwa telur dapat menurunkan risiko penyakit jantung, mengurangi risiko kanker payudara dan usus besar, menurunkan risiko degenerasi mokular dan katarak, mengurangi pengecilan massa otot, meningkatkan kekenyangan dan membantu penurunan berat badan, serta merangsang kesehatan. Menurut McNamara, menambah sebutir telur sehari pada menu makanan akan mengurangi risiko PJK dan kanker usus hingga 50%, kanker payudara sampai 40%, degenerasi mokular (penurunan penglihatan) sebesar 9,5%, kasus katarak 11%, sarkopenia (penurunan fungsi dan kekuatan otot) 0,5%, dan kelainan tabung syaraf 20%, serta meningkatkan kecerdasan dan mencegah kepikunan.
Selengkapnya simak Majalah Poultry Indonesia edisi cetak Maret 2013. 



——————————
BLOG Peternak Layer Nusantara mempunyai harapan untuk menjadi Pintu Gerbang Informasi Bisnis Layer di Indonesia. Andapun dapat turut berbagi informasi sebagai kontributor di BLOG tersebut.
Bila Anda berkeinginan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman bisnis perunggasan, maka di sinilah tempatnya. Kirimkan artikel Anda melalui email posongfarm@gmail.com dan akan diposting di BLOG PETERNAK LAYER NUSANTARA. Jangan lupa follow @republikENDOG  di http://www.twitter.com untuk selalu terhubung bersama mengkampanye protein hewani untuk menuju Indonesia Emas 2020
Baca Selangkapnya >>

Menggandakan Konsumsi Ayam & Telur

Posted by EKO APRI SETIADI On Kamis, 31 Januari 2013 0 komentar

Peternak menyatakan kesiapannya menyasar target double consumption. Pertanyaannya, bagaimana dengan strategi pasar, sudahkah disiapkan?
Pemerintah melalui Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan, bertekad mendongkrak konsumsi ayam dan telur menjadi dua kali lipat (double consumption) dalam 5 tahun mendatang. Dalam kesempatan acara Festival Ayam dan Telur 2012 yang digelar 21 Oktober lalu, Rusman mengatakan, angka konsumsi daging ayam yang sekarang sekitar 7 kg/kapita/tahun di target pada 2017 menjadi14 kg/kapita/tahun.
Begitu pula dengan konsumsi telur yang saat ini sekitar 86 butir/kapita/tahun, akan didorong menjadi sekitar 180 butir/kapita/tahun. “Untuk mewujudkan target ini, butuh strategi dan dukungan dari seluruh pelaku perunggasan, terkait langkah promosi/kampanye, penyediaan kebutuhan bibit ayam, pakan, obat-obatan, sampai pengembangan industri hilirnya,”  ungkap Rusman.
Peternak Siap, Pasar?
Wacana double consumption produk unggas ditanggapi positif peternak. Ketua Umum  Gabungan Organisasi Peternak ayam Nasional (GOPAN), Tri Hardiyanto menilai, untuk Pulau Jawa apa lagi Jabodetabek (Jakarta Bogor depok Tangerang Bekasi), tingkat konsumsi daging ayam sudah cukup tinggi. “Jakarta saja bisa sampai 20 kg/kapita/tahun,” kata Tri.
Tetapipersoalannya, tingkat konsumsi ini belum merata, terutama wilayah timur Indonesia seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua. “Pekerjaan Rumahnya, bagaimana menggenjot konsumsi ayam di wilayah timur, sementara untuk wilayah barat seperti Sumatera relatif lebih mudah karena infrastrutur sudah cukup terbangun,” kata Tri.
Tri sebagai peternak broiler menyatakan siap menyasar target. Tetapi bagaimana kesiapan pasar, dipertanyakan Tri. Kian tajamnya fluktuasi harga ayam dan telur beberapa tahun terakhir, menurut Tri, menjadi gambaran bahwa pasokan dan permintaan belum berimbang.
Jelang akhir tahun pascaIdul Fitri lalu misalnya, harga ayam hidup terjun bebas, sebagianmenyentuh Rp 8.500 per kg. Dan ini tidak dinikmati oleh konsumen apalagi peternak. “Jelas yang untung adalah pedagang perantara,” kata Tri.Ia menilaiperlu adanya perangkat kebijakan yang mengatur tata niaga daging ayam, melibatkan pemerintah, akademisi danpelakubisnis. “Minimal informasi perkembangan harga produk unggas dapat sampai di konsumen,” kata Tri. Jika langkah ini tidak dilakukan, akan sulit mewujudkan double consumption.
Bersamaan itu juga perlu didorong strategi pemasaranayam dalam bentuk karkas beku. Selain lebih higienis,produk karkas beku bisa lebih tahan lama. Pembuatan RPA harus terus didorong untuk menampung produksi ayam, menjaga stabilitas harga dan memungkinkan pasokan ayam merata ke semua wilayah.
Sejauh ini, kata Tri, hanya sekitar 12 % produk ayam yang mengandalkan rantai dingin, sisanya masuk pasar tradisional dalam keadaan hidup. Bahkan produksi ayam secara massal oleh perusahaan integrasi tidak diikuti strategi penjualan yang mumpuni.“Pasokan ayam dari integrator yang seyogianya masuk pasar higienis, menyasar pasar becek pula. Alhasil harga ayam anjlok,” ujar Tri.Penjualan ayam hidup berujung pada labilnya harga ayam di pasar karena harus segera habis terjual, sementara daya beli dan momentum penyerapan ayam di pasar naik turun.
Pakar perunggasan dari Institut Pertanian Bogor, Arief Daryanto juga menyoroti potret pasar brolier saat ini yang masih mengandalkan bentuk hidup (live bird). Menurut dia, bila pemasaran produk ayam masih seperti saat ini, sulit target tersebut tercapai.
Arief menjelaskan, ayam hidup dalam penampungan di pasaran tidak bisa dipelihara dalam waktu lama karena akan menambah biaya operasional. Sementara daya serap pasar berfluktuasi, ini kerap berakibat pasokan broiler menumpuk. “Pedagang pun dipaksa menjual dengan harga lebih rendah sampai di bawah biaya produksi supaya ayamnya cepat laku,” kata Arief.
Menurut Arief target  double consumption produk ayam harus dimulai dengan langkah promosi atau kampanye publik agar preferensi konsumen untuk mengonsumsi ayam dalam bentuk karkas beku lebih baik. “Targetnya adalah secara bertahap menggesar pasar ayam hidup yang saat ini mendominasi (sekitar 90 %) menjadi karkas beku atau bahkan produk olahan,” ujar Arief.
Karena itu, upaya pembenahan di sektor hulu (on farm) harus diberangi dengan pengembangan hilir (off farm), termasuk rantai pemasaran sampai industri pengolahan. “Hilirisasi produk perunggasan harus mulai digarap,” ungkap Arief.
Mulai dengan Promosi
Peternak ayam petelur asalYogyakarta, Yudianto Yogiarso juga punya pandangan serupa,wacana double consumption harus dimulai dari konsumsi. Alih-alih disalahmengertikan atau sengaja disalahartikan untuk melegalkan peningkatan populasi layer maupun broiler tanpa membaca pasar. “Saya setuju dengan wacana ini dan dapat dimulai dengan program rutin kampanye makan ayam dan telur,” kata Ketua Pinsar (Pusat Informasi Pasar) Unggas Yogyakarta ini.
Ia menyarankan, perlu dilakukan survei dengan menggunakan jasa profesional, untuk dapat menentukan bentuk program promosi seperti apa yang cocok agar tepat sasaran. Seperti Departemen Pertanian Amerika Serikat yang menggunakan segala media untuk kampanye sehat mengonsumsi telur. Mulai dari leaflet/brosur, iklan, dan jejaring sosial.
Khusus untuk produk telur, lanjut Yudianto, perlu juga ditunjang dengan pembangunan sektor hilir telur dan buffer market (pasar penyangga). “Bisa jadi dengan membangun semacam Bulog bagi telur yang bisa melakukan operasi pasar saat harga kacau. Selain itu lembaga ini juga melakukan buffering dengan mengubah telur menjadi produk turunan seperti tepung telur yang sebetulnya pasarnya sudah ada,” gagasnya.
Sekretaris Jenderal Pinsar Unggas Nasional, Eddy Wahyudin ikut menyarankan, khusus untuk  target double consumption telur, langkah yang perlu dilakukan antara lain pertama, harus ada sosialisasi atau kampanye untuk meningkatkan standar gizi sehingga konsumsi telur bisa meningkat. Kampanye ini bisa macam-macam, misalnya melalui sekolah.
Ke dua, lanjutnya, distribusi harus baik sehingga tidak bertumpuk di Jawa dan kota besar lainnya. Ke tiga, perlu dikembangkan keanekaragaman pangan berbahan dasar telur. Ke empat, pemerintah harus mempermudah izin investasi.
RPA & Produk Olahan
Sejalan dengan pemikiran tersebut, Ketua Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (Arphuin), Achmad Dawamimengatakan, para pengusaha peternakan ayam yang sudah berkembang harus mulai berpikir membangun RPA (Rumah Potong Ayam) yang dilengkapi coldstorage (ruang pendingin) untuk menyimpan karkas. “Saat ini jumlah RPA masih sedikit,” kata Dawami.
Isufurther processing(pengolahan lebih lanjut), lanjut dia,harus terus dirangsang. Idealnya, ayam yang diperdagangkan di lapak-lapak pasar tradisionaltidak disembelih di tempat jual tersebut sekaligus tapi disuplai dariRPA. Sehingga pasar becek atau pasar tradisional jadi bersih. “Tidak jadi masalah RPA kecil atau besar,” kata Dawami lagi. Tetapi faktanya, pemasaran ayam di pasar becek masih jamak melakukan penyembelihan di tempat.
Dawami memperkirakan sampai 2017 dibutuhkan coldstorage dengan kapasitas total 500 ribu ton. Saat ini, kata Dawami, RPA yang ada di Indonesia kapasitasnya masih kecil-kecil, dengan total kapasitas coldstorage baru sekitar26 ribu ton. Dan mayoritas berada di Pulau Jawa.
Dawami mengajak  anggota Arphuin yang sudah bergabung untuk menambah jumlah RPA-nya. “Jangan lupa, kalau membangun RPA juga menyediakan blast freezer dan coldstorage yang cukup besar, yang akanberfungsi dalam stabilisasi harga ayam,” pesannya. Menurut informasi, ungkap Dawami, Japfa sampai2014 menargetkan punya 20 lokasi RPA di seluruh Indonesia.
Coldstoragemampu menjadi buffer stock management(manajeman stok penyangga)komoditas. Saat harga ayam rendah karkas beku disimpan, menunggu harga membaik. “Buffer stock managementitu diperlukan,” kali ini Arief yang berkomentar.
Dukungan Kebijakan
Dukungan pemerintah mutlak dibutuhkan untuk membenahi persoalan perunggasan dari hulu sampai hilir agar sasaran target double consumption tercapai. Menurut Arief, Kementerian Pertanian bertanggungjawab membenahi bidang on farm, kemudian Kementerian Perdagangan membenahi pasar higienis, sementara Kementerian Perindustrian mendorong pengembangan investasi pabrik pengolahan ayam.
Terkait ini, Dawami mengusulkan, pemerintah sebaiknya membuat tim khusus untuk menyusun grand design menuju double consumption. Tim khusus ini harus dari berbagai elemen dan kementerian. Mulai dari Kementerian Perdagangan, Pertanian, Pekerjaan umum, Energi, hingga Pendidikan.“Jadi jangan hanya semangat saja untuk mencapaikonsumsi 15 kg/kap/th,” Dawami berseloroh.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Desember 2012



——————————
BLOG Layer Nusantara mempunyai harapan untuk menjadi Pintu Gerbang Informasi Bisnis Layer di Indonesia. Andapun dapat turut berbagi informasi sebagai kontributor di BLOG tersebut.
Bila Anda berkeinginan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman bisnis perunggasan, maka di sinilah tempatnya. Kirimkan artikel Anda melalui email posongfarm@gmail.com dan akan diposting di BLOG PETERNAK LAYER NUSANTARA. Jangan lupa follow @republikENDOG  di http://www.twitter.com untuk selalu terhubung bersama mengkampanye protein hewani untuk menuju Indonesia Emas 2020
Baca Selangkapnya >>

Problematika Perunggasan Nasional 2012

Posted by EKO APRI SETIADI On 0 komentar

10. January, 2013 Catatan Harga, Januari 2013 No comments

article-imagepoultryindonesia.com, Sepanjang ingatan kita, sedikit sukar memprediksi situasi pasar unggas. Selama tahun 2012 telah terjadi gonjang-ganjing pasar yang cukup membuat sport jantung peternak, pada suatu waktu situasinya cukup membuat gelisah namun pada kesempatan lain sangat menggembirakan. Tak dapat dipungkiri, keadaan sosial, ekonomi dan psikilogis masyarakat sangat memengaruhi kondisi pasar unggas kita.

Awal tahun 2012 menjadi awal tahun yang baik bagi peternak. Kenapa tidak? Harga ayam hidup (eks-farm) pada awal bulan Januari naik dari Rp.13.500 menjadi Rp.14.000 per kilogram. Memang seperti yang kita ketahui, mendekati hari-hari besar, harga daging ayam cenderung naik seperti hari raya Imlek yang jatuh pada bulan Januari tahun lalu.
Pertengahan bulan Januari 2012, yang bertepatan dengan hari raya Imlek, harga ayam melambung hingga menembus Rp.14.500 per kg. Jika dibandingkan dengan awal tahun 2011, sangat jauh berbeda yang hanya mencapai Rp.10.000 – Rp.11.000 per kg. Liburan sekolah yang bertepatan dengan bulan Syafar pun diperkirakan sebagai alasan mengapa harga daging ayam maupun telur naik. Selain itu, musim hujan yang terjadi pada awal tahun 2012 itu pun berpotensi menaikkan harga ayam. Sebab, hujan bisa menghambat distribusi daging ayam di beberapa daerah yang rawan banjir seperti Jakarta. Suplai ayam di Jakarta berasal dari beberapa daerah seperti Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, maupun Sukabumi dan Cianjur.
Seperti yang dikatakan Ir. Eddy Wahyudin, MBA., Sekretaris Jenderal Pinsar Unggas Nasional, awal tahun 2012 kondisi pasar broiler cukup baik. Kontraksi harga hingga pada posisi berada di bawah HPP-nya terjadi pada akhir Maret hingga awal Mei 2012. Kontraksi harga broiler saat itu dominan akibat dampak rencana kenaikan harga BBM oleh pemerintah. Sementara itu, situasi terburuk kembali terjadi pasca lebaran. Di mana kondisi under demand dan overstock sehingga harga jatuh di titik terendah yakni Rp.8500/kg. Namun, menurut Eddy, kondisi secara umum harga broiler masih menguntungkan peternak. Ini tercermin dari harga rata-rata broiler hidup selama 10 bulan terakhir sebesar Rp.14.646/kg, sementara rata-rata harga HPP Rp.13.181/kg, dan sebagai catatan pada tahun 2012 dicapai rekor harga broiler tertinggi yakni Rp.19.000/kg.
Hal yang sama juga terjadi pada telur. “Secara umum performa harga telur sepanjang 2012 cukup baik, terlihat dari rata-rata harga jualnya yang melampaui HPP nya yakni Rp.14.161/kg berbanding Rp.13.273/kg. Seperti tahun 2011 lalu, berapa kali terjadi kontraksi akibat gangguan distribusi telur asal Jawa Timur ke Kawasan Timur Indonesia akibat cuaca yang memburuk dan beredarnya telur breeding yakni pada April hingga awal Mei 2012,” ujarnya.
Satu hal baru yang dihadapi peternak layer di tahun 2012, kata Eddy, kenaikan harga DOC layer hingga Rp.13.000/ekor. Namun, catatan harga terbaik juga dicapai yakni Rp.17.000/kg. “Kekhawatiran kembali muncul pasca lebaran di mana performa harga telur memburuk hingga kini sebagai dampak kenaikan harga pakan,” akunya.
Prediksi 2013
Mencermati tahun 2013, menurut Eddy, krisis pangan dunia akan berdampak pada kenaikan harga pakan dan HPP komoditas broiler dan telur. Selain itu, ancaman penyakit masih berpotensi akan mengganggu secara langsung proses produksi broiler dan telur. Secara tidak langsung berdampak pada kenaikan harga bibit, karena gangguan produksi di pembibitan.
Sementara itu, lanjutnya, dari sisi permintaan meskipun saat ini pertumbuhan ekonomi cukup mendukung, perlambatan ekonomi dunia berpotensi menurunkan perekonomian nasional. Dalam jangka tertentu bisa berpengaruh pada tingkat pendapatan masyarakat. “Gangguan distribusi juga berpotensi terjadi, mempengaruhi harga,” ungkapnya.
*Selengkapnya simak Majalah Poultry Indonesia edisi cetak Januari 2013. 


——————————
BLOG Layer Nusantara mempunyai harapan untuk menjadi Pintu Gerbang Informasi Bisnis Layer di Indonesia. Andapun dapat turut berbagi informasi sebagai kontributor di BLOG tersebut.
Bila Anda berkeinginan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman bisnis perunggasan, maka di sinilah tempatnya. Kirimkan artikel Anda melalui email posongfarm@gmail.com dan akan diposting di BLOG PETERNAK LAYER NUSANTARA. Jangan lupa follow @republikENDOG  di http://www.twitter.com untuk selalu terhubung bersama mengkampanye protein hewani untuk menuju Indonesia Emas 2020
Baca Selangkapnya >>

"PROSPEK PERUNGGASAN 2013"

Posted by EKO APRI SETIADI On 0 komentar

Majalah Poultry Indonesia Edisi Cetak Januari 2013


poultryindonesia.com, Tahun 2012  telah kita tinggalkan dan ditutup dengan respon dan sikap optimis peternak serta stakeholder perunggasan lainnya.  Setelah gejolak harga live bird yang terus merosot semenjak lebaran Idul Fitri, mulai pelan terangkat memasuki pertengahan Desember.

Momen liburan sekolah, natal dan tahun baru setidaknya mampu mendongkrak harga ayam hidup juga telur karena memang demand yang cukup tinggi. Tercatat harga ayam hidup menembus angka Rp. 16.000 per kg bahkan di beberapa daerah lebih tinggi. Telur pun juga begitu, sekitar Rp. 15.000 per kg.
Setidaknya beberapa momen ini memberikan harapan dan semangat baru bagi masyarakat perunggasan untuk optimis menyongsong tahun 2013. Tentunya dengan iklim usaha yang lebih baik yang disertai peningkatan konsumsi ayam dan telur.  Sektor perunggasan diperkirakan  tetap akan growing di tahun 2013 seiiring dengan peningkatan pendapatan per kapita yang mencapai USD 3.300.
 
Mengawali tahun 2013, tema Prospek Perunggasan di tahun 2013 kami coba unggah utk berbagi tulisan.Sedikit telat memang saya menulis di Blog tapi tak jadi masalah,tak ada kata terlambat kan kawan.Hal ini di sebabkan kesibukan saya...

Tahun 2013 mudah-mudahan menjadi tahun kebangkitan perunggasan indonesia khususnya Layer,setelah di tahun 2012 kita d timpa dengan berbagai tantangan...mulai dari harga DOC yg melambung tinggi,Pakan yang mahal,dan harga telur yg naik turun kaya ret seleting...hehehehehe

Dengan harapan besar di tahun 2013 semogga ini menjadi suntikan semangat kita kawan...
——————————
BLOG Layer Nusantara mempunyai harapan untuk menjadi Pintu Gerbang Informasi Bisnis Layer di Indonesia. Andapun dapat turut berbagi informasi sebagai kontributor di BLOG tersebut.
Bila Anda berkeinginan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman bisnis perunggasan, maka di sinilah tempatnya. Kirimkan artikel Anda melalui email posongfarm@gmail.com dan akan diposting di BLOG PETERNAK LAYER NUSANTARA. Jangan lupa follow @republikENDOG  di http://www.twitter.com untuk selalu terhubung bersama mengkampanye protein hewani untuk menuju Indonesia Emas 2020
Baca Selangkapnya >>

Blitar, Kandang Raksasa Layer

Posted by EKO APRI SETIADI On Sabtu, 29 Desember 2012 3 komentar
01 May 2008
Blitar, Kandang Raksasa Layer

Sekitar 15 juta petelur hasilkan 450 ton telur per hari. Putaran uang capai Rp 5 triliun per tahun

TAK salah kalau orang bilang Kabupaten Blitar adalah kandang raksasa ayam petelur, layer. Tak kurang dari 15 juta ekor layer dibudidayakan dalam lingkup 15 dari 22 kecamatan di kabupaten itu. Derap agribisnis dan agroindustri layer ini telah menjadi lapangan kerja utama dari 102.000 peternak. Mereka, di bawah naungan puluhan UMKM yang kokoh mengakar, bukan hanya karena mengandalkan tradisi, melainkan juga karena pemahaman baru mereka tentang bisnis dan industri. Tak kurang dari Rp 5 triliun uang yang berputar di kandang raksasa layer itu. Jumlah ini sama dengan 5 kali lipat APBD Pemda Blitar. Jadi tak mengherankan bila layer di sana berkontribusi sekitar 20 % terhadap PDRB.    
Tidak hanya peternakan layer yang menjadi unggulan Blitar, jelas drh Hermanto kepada TROBOS akhir Maret lalu di Blitar. Kepala Dinas Peternakan ini menyebutkan, broiler, sapi perah, sapi potong, itik, burung puyuh, kambing dan domba juga unggulan yang kini sedang digenjot untuk mampu bersaing. Yang jelas, dari 15 juta layer itu, atau 42,8 % dari Jawa Timur yang 35 juta ekor, Blitar mampu memproduksi tak kurang dari 450 ton telur per hari. Sementara daging ayam (broiler dan layer afkir) tak kurang dari 55 ton per hari. Pasarnya lumayan luas, hampir ke seluruh kota di Jawa maupun di luar Jawa.
Gigih, Tak Kenal Menyerah
Sebagai rekanan di bidang kesehatan hewan yang akrab menggauli peternakan di Blitar, Meizon, Asisstant District Manager Medion (produsen obat dan vaksin hewan) berkomentar, ?Majunya layer di Blitar tidak dapat dipisahkan dari posisi strategis Blitar. Memungkinkan telur dapat dipasarkan ke mana saja.?
Padahal dulu, Blitar Selatan (Surowadang), tanahnya berbukit dan berkapur hanya ditanami singkong. Sekarang hampir setiap rumah memelihara layer, kandang pun hanya berpagar bambu. Meskipun air sulit dan harus beli, per tangkinya Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu.
Ia mengaku, pihaknya telah ikut 2 kali tender vaksin dan desinfektan yang dilakukan oleh Dinas Peternakan Blitar untuk anggaran 2006 dan 2007 sebanyak 600.000 dosis.
Arief Wendy Ardhana, Technical Service and Sales pakan Comfeed wilayah Blitar sekilas menggambarkan peternak layer Blitar. Populasi yang bervariasi dari besar sampai kecil, merupakan bagian dari budaya turun temurun budidaya peternakan dan pertanian. Mereka pada dasarnya tidak lepas dari tokoh peternak senior Blitar, Siswoyo dan Masngut.
Sedangkan Handris Nugroho, supervisor sejawat Arief menambahkan Blitar memenuhi syarat sebagai sentra layer, karena air dan iklimnya cocok, sarana transportasi layak dan dekat dengan sumber bahan baku. ?Blitar salahsatu sentra jagung dan dedak Jawa Timur. Selain itu, hampir semua pabrikan masuk Blitar mulai dari DOC, pakan dan obat,? kata Handris.
Supiyan, Area Supervisor Sanbe, produsen obat hewan menimpali, ?Blitar memang berbeda dengan daerah lain.? Lanjutnya, karena sudah menjadi usaha pokok, bagaimanapun sulit dan terpuruknya perunggasan tidak membuat peternak jera. Ia juga menganalisa, melalui seleksi alam peternak bisa jadi berkurang, ?Tetapi populasi tetap pada kisaran 15 jutaan.? Dari aspek ongkos produksi, layer di Blitar lebih rendah dibanding daerah lain, salah satu faktornya adalah keterlibatan seluruh anggota keluarga dalam budidaya. Saking utamanya layer dalam kehidupan warga, stok bahan baku pakan layer menjadi kebutuhan pokok dan tidak bisa ditunda. Stok ini harus mencukupi 6 bulan pemeliharaan layer. ?Di Blitar, kebutuhan lain bisa ditunda tapi stok pakan adalah utama,? kata Supiyan.
Pemda pun sangat mendukung usaha layer yang telah menjadi maskot  Blitar itu. Dibuktikan dengan tidak adanya perda (peraturan daerah) yang menghambat. Tidak ada retribusi yang diterapkan dinas. ?Di Blitar, retribusi telur, susu, dan daging yang dulunya ada, kita hapus.? Dihapusnya retribusi bukan berarti pemerintah tidak melakukan pengawasan, tetapi pemerintah membiayai operasional pengawasan tanpa membebani masyarakat. Sehingga, menurut Hermanto, majunya peternakan di Blitar tidak bisa diukur dari PAD Dinas Peternakan. Yang menggembirakan, PBB (pajak bumi dan bangunan) warga peternak Blitar biasanya lunas sebelum jatuh tempo.
Rencana Minapolitan
Potensi Blitar lainnya adalah sentra ikan hias koi. Secara nasional daerah ini  memasok 80% produk ikan hias. Pada 2005, dibangun sub riser ikan hias di kawasan Penataran. Dinas Perikanan dan Kelautan Blitar tengah merencanakan proyek Minapolitan khusus ikan hias koi. Lokasi program ditetapkan desa Penataran, Kemloko, Krenceng dan Bangsri yang selama ini menjadi sentra budidaya ikan koi disamping 14 kecamatan lainnya. Sementara untuk meningkatkan produk perikanan tangkap mulai 2004 dibangun PPI Tambakrejo yang direncanakan selesai 2008.
 Soal kendala pengembangan agribisnis peternakan dan perikanan di daerah ini, antara lain disebut penyakit ternak (flu burung), tingginya harga sapronak, kurangnya dukungan sektor pertanian dan perikanan untuk penyediaan bahan baku pakan dan kurangnya modal yang dimiliki peternak. 
Pakan  yang melambung diakui berdampak menurunkan populasi layer di Blitar. Menurut Arif, kondisi ini tidak hanya di Blitar, banyak Parent Stock (induk) dan layer diafkir lebih awal. Sementara, tidak diimbangi masuknya DOC untuk peremajaan. Takm pelak populasi turun dari kondisi normal 14.945.300 ekor, kini berada pada kisaran angka 13 juta ekor. Diinformasikan Hermanto, anggaran yang dialokasikan untuk semua kegiatan pembangunan peternakan di Kabupaten Blitar  Rp 11 miliar, terdiri atas Rp 9,148 miliar dari APBD kabupaten, Rp 1,965 miliar dari APBN, serta sisanya dari APBD provinsi. Sedangkan anggaran Dinas Perikanan dan Kelautan sebesar Rp 3,9 miliar.

 ——————————
BLOG Layer Nusantara mempunyai harapan untuk menjadi Pintu Gerbang Informasi Bisnis Layer di Indonesia. Andapun dapat turut berbagi informasi sebagai kontributor di BLOG tersebut.
Bila Anda berkeinginan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman bisnis perunggasan, maka di sinilah tempatnya. Kirimkan artikel Anda melalui email posongfarm@gmail.com dan akan diposting di BLOG PETERNAK LAYER NUSANTARA
Mengutip motto dari @AkademiBerbagi bahwa “BERBAGI BIKIN HAPPY”. Jangan lupa follow @republikENDOG  di http://www.twitter.com untuk selalu terhubung bersama mengkampanye protein hewani untuk menuju Indonesia Emas 2020
Baca Selangkapnya >>

Peternak Ayam Petelur Menjerit

Posted by EKO APRI SETIADI On 0 komentar

Peternak Ayam Petelur Menjerit

Harga Pakan Naik, Terpaksa Jual Ayam
Jum'at, 28 Desember 2012 , 08:14:00
PURWOKERTO - Bukan hanya ancaman penyakit yang membuat kawatir peternak ayam petelur. Bahkan kini, para peternak ayam petelur di eks-Karesidenan Banyumas, termasuk Bumiayu dan Brebes, dipusingkan harga pakan ayam yang terus naik. Bahkan, tidak sedikit peternak yang terpaksa mengurangi populasi untuk mengurangi kerugian.

Menurut Ketua Posko Ayam Indonesia (PAI) Kabupaten Banyumas, Agus Tjatur, harga pakan ayam petelur naik secara signifikan selama lima bulan terkahir. Pakan telur yang biasanya Rp 3.300  hingga Rp 3.500  naik jadi Rp 4.500 - Rp 4.600. Kenaiakan pakan ternak inilah yang secara otomatis menyebabkan biaya produksi tinggi.

"Sekarang ini, nominal BEP telur masih dibawah harga telur dipasar. BEP ayam petelur sampai Rp 15.700. Padahal harga telur per kilonya di pasar sempat Rp 11.000-13.000. Banyak yang merugi," kata Agus Tjatur saat ditemui Radarmas (Grup JPNN) di rumahnya.

Agus menyebut, akibat kerugian selama lima bulan terakhir ini populasi ayam petelur di wilayah Barlingmascakeb sampai Bumiayu yang semula 1,8 juta ekor tinggal menyisakan populasi 1,5 juta ekor. Hal itu dikarenakan ayam petelur dijual untuk menutup ongkos produksi yang terus merugi.

"Hitungan kerugian yang dialami Rp 2.500 per kg. Padahal, produksi telur dari 1,5 juta ekor mencapai 75 ribu ton telur. Tinggal dikalikan saja, bahkan, setiap harinya merugi sampai Rp 200 juta," kata Agus Tjatur lagi sambil menambahkan ada 200 pengusaha peternak ayam petelur yang merugi.

Dijelaskan dia, diakhir tahun ini (Desember 2012), harga telur di pasaran sebenarnya sudah mulai merangkak naik. Kata dia, sudah mendekati BEP maski masih dibawahnya, yaitu Rp 15.500.

"Harga Rp 15.500 sudah bisa menutup biaya produksi, tenaga, dan berbagainya. Sudah mendingan, sudah lega," kata dia.

Pada bulan Desember ini, disaat pengusaha peternak ayam petelur sempat bernapas lega karena harga telur naik selama dua minggu terakhir ini, justru  dibuat kelabakan lagi dengan harga pakan jagung yang naik. Ini dikarenakan cuaca tidak menentu sekaligus keterpasokan pakan jagung yang mulai langka.

"Pakan seperti Jagung juga mengalami penurunan produksi seperti kedelai yang masih bergantung pada impor. Sekarang ini, pakan jagung yang tadinya Rp 3000-3200 menjadi Rp 3500-3600," katanya.

Dia berharap, pemerintah yang selama ini mendidik mandiri kepada seluruh pengusaha peternak ayam petelur, bisa mengimbanginya dengan pembuatan bank-bank yang dikhususkan seperti bank khusus ke pertanian, peternak ayam, atau lainnya. Sebab, di negara lain yang maju, sudah ada bank yang mengakomodir kebutuhan pertanian atau peternak. "Seperti di Thailand atau di Malaysia sudah ada bank yang sudah memberi pelayanan khusus kepada para petani atau peternak," katanya berharap.

Sementara itu kematian itik yang terjadi di wilayah Kabupaten Banyumas diidentifikasikan virus sejenis flu burung. Hal itu dikatakan Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Dinakkan) Kabupaten Banyumas, Sugiyanto, Kamis (27/12).

"Kita belum dapat hasil lab dari sampel yang kita kirim ke Jogjakarta untuk diuji laboratorium. Tapi, kita identifikasikan bahwa itu adalah serangan dari virus sejenis flu burung. Apakah itu virus baru, atau mutasi dari jenis virus flu burung masih kita tunggu hasilnya," kata Sugiyanto.

Diidentifikasikann ya sejenis virus flu burung dikarenakan ciri dan cara kematian itik mirip dengan ayam yang mati akibat terkena virus flu burung. Mulai dari kematian mendadak sampai keadaan itik yang mati tersebut.

Sementara itu drh Agus Tjatur menjelaskan, sampai sekarang virus yang menyerang itik tidak menular ke ayam petelur maupun pedaging. Dari laporan di wilayah Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas dan sekitarnya sampai ke Bumiayu, tidak ada kematian ayam yang mendadak yang diakibatkan di lokasi sekitar ada itik yang matik mendadak.

"Untuk ayam, belum ada laporan kematian mendadak seperti bebek. Saya kira, ini karena peternak ayam petelur dan pedaging sudah menerapkan bio security dan vaksin yang terus kontinyu sehingga ayam pun sehat," kata Agus saat ditemui di rumahnya di Jalan Adipura Raya, Sumampir.(ttg)
 
"info dari hasil sharing via grup BB PETRENAK LAYER NUSANTARA"
 
 
 ——————————
BLOG Layer Nusantara mempunyai harapan untuk menjadi Pintu Gerbang Informasi Bisnis Layer di Indonesia. Andapun dapat turut berbagi informasi sebagai kontributor di BLOG tersebut.
Bila Anda berkeinginan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman bisnis perunggasan, maka di sinilah tempatnya. Kirimkan artikel Anda melalui email posongfarm@gmail.com dan akan diposting di BLOG PETERNAK LAYER NUSANTARA
Mengutip motto dari @AkademiBerbagi bahwa “BERBAGI BIKIN HAPPY”. Jangan lupa follow @republikENDOG  di http://www.twitter.com untuk selalu terhubung bersama mengkampanye protein hewani untuk menuju Indonesia Emas 2020.
 
Baca Selangkapnya >>

Pertimbangan afkir dengan harga telur

Posted by EKO APRI SETIADI On Selasa, 18 Desember 2012 2 komentar

Pertimbangan afkir dengan harga telur

Sebentar lagi kita memasuki bulan Ramadhan/puasa, biasanya 3-2 minggu menjelang bulan puasa harga2 kebutuhan pokok serentak naik, termasuk telur ayam.
Disaat saat seperti itu pula sebagaian dari peternak harus melakukan afkir pada ayam2 yang sudah tua. Banyak yang ragu2 dan bingung menghadapi delema fakir ayam padahal harga telur sedang baik2nya, sehingga tidak jarang timbul penyesalan.
Berikut saya berika sedikit perhitungan untuk di jadikan pertimbangan dalam meng afkir ayam.
Misalnya:
Jika kita terlambat mengafkir ayam, lalu harga afkir turun Rp 100,-/kg maka yang terjadi adalah “potential loose” disebut “PL” yang dapat dihitung sebagai berikut: Harga afkir turun Rp 100,-/kg, maka PL perekor adalah Rp 190,-/ekor (jika berat perekor afkir 1,9 kg).
Bagaimana cara menutup kerugian tersebut..? Jika produksi ayam kita usia 80 minggu masih 75% (HD) dan berat telur rata2nya 64 gr maka: seekor ayam rata hanya menghasilkan telur seberat : 75% x 64 = 48 gram artinya dibutuhkan 1000  : 48 = 20,8 ekor ayam untuk menghasilkan 1 kg telur. maka PL yang harus di tanggung oleh 1 kg telur adalah 20,8 x 190 = Rp 3.952,- Untuk menutup kerugian tersebut, maka harga telur harus naik atau dinaikan. Jika harga telur bisa naik Rp 100,-/kg, maka kenaikan harga telur tersebut harus dipertahankan selama : 3.952 : 100 = 39,5 hari...!!! (angka2 dapat diubah disesuaikan dengan kondisi farm sendiri).
Singkatnya: Turunnya harga afkir akan menyebabkan PL setara dengan menaikkan harga telur selama 5-6 minggu...!! ( Demikian juga jika sebaliknya yang terjadi, kita mendapat keuntungan yang cukup besar). Ini sudah kami jadikan salah satu pertimbangan jika ragu2 dalam mengafkir ayam tua.....( Breeding justru sering mengabaikan hitungan ini)

——————————
BLOG Layer Nusantara mempunyai harapan untuk menjadi Pintu Gerbang Informasi Bisnis Layer di Indonesia. Andapun dapat turut berbagi informasi sebagai kontributor di BLOG tersebut.
Bila Anda berkeinginan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman bisnis perunggasan, maka di sinilah tempatnya. Kirimkan artikel Anda melalui email posongfarm@gmail.com dan akan diposting di BLOG PETERNAK LAYER NUSANTARA
Mengutip motto dari @AkademiBerbagi bahwa “BERBAGI BIKIN HAPPY”. Jangan lupa follow @republikENDOG  di http://www.twitter.com untuk selalu terhubung bersama mengkampanye protein hewani untuk menuju Indonesia Emas 2020.
Baca Selangkapnya >>